Pages

Merajut dakwah dalam ukhuwah, sulitkah?

      Beberapa waktu yang lalu, saya beserta teman teman dari ROHIS AL-USWAH SMAN 1 TELADAN YOGYAKARTA silaturahmi ke ROHIS DARUSSALAM SMA N 5 YOGYAKARTA. Kami memang memiliki salah satu program rutin yaitu silaturahmi ke sekolah sekolah di Yogyakarta, tentu bukan hanya untuk menjalin ukhuwah tetapi diikuti dengan misi-misi rahasia lain,hihihi :B. Salah satunya : mencari ilmu. SMAN 5 Yogyakarta terkenal dengan titelnya sebagai sekolah percontohan islam. Kami (pihak SMAN 1 yogya) jadi penasaran dengan islam disana. Kami ingin mengambil ilmu yang diterapkan mereka untuk dakwah di sekolah mereka ke sekolah kami. Dan cita-cita berkunjung ke sanapun akhirnya tercapai, setelah berhadapan dengan birokrasi yang agak menyulitkan dari sekolah. Setelah sampai disana, kami disambut dan digiring menuju masjid SMAN 5 Yogyakarta. Masjid SMAN 5 Yogyakarta terletak di bagian belakang sekolah, sama halnya dengan masjid Al-Uswah masjid itu mempunyai 2 lantai. Acara dimulai dengan sambutan dan diikuti sesi-sesi yang telah diagendakan ROHIS DARUSSALAM. 

      Dalam sebuah sesi setelah shalat ashar, kami dibagi dalam beberapa kelompok sesuai departemen. Waktu itu, saya kebagian di masjid atas (masjid akhwat) bergabung bersama departemen masjid, departemen syiar dan dakwah dan departemen rohis kelas serta saya sendiri selaku koor departemen keakhwatan.

      Dalam diskusi tersebut, banyak permasalahan dalam berdakwah yang terungkap. Saya bisa simpulkan dari sesi diskusi tersebut bahwasanya permasalahan permasalahan yang ditemui dalam dakwah selalu sama. Hal ini saya ungkapkan berdasar pengalaman selama setengah tahun ini saya berkecimpung dengan departemen yang saya tangani. Dari departemen keakhwatan baik dari SMA 1 maupun SMA 5 memiliki akar permasalah yang sama.

1. Sulitnya mengajak orang untuk datang ke kajian
2. Tidak ada apresiasi dan penghargaan dari teman teman terhadap kinerja ROHIS sendiri.
3. Publikasi kajian yang ngadat di tengah jalan

Mari kita bahas bersama permasalahan di atas :

1. Sulitnya mengajak orang datang ke kajian.
Mengajak orang datang ke kajian adalah kunci dari berdakwah. Dakwah tidak akan berjalan tanpa ada orang yang didakwahi. Pada era kini , rasanya sulit sekali untuk mengajak orang datang ke kajian. Padahal publikasipun sudah dijalankan semaksimal mungkin, bahkan dari pihak yang mempublikasikan sudah kreatif dan mengikuti tren yaitu publikasi lewat facebook, blog, dan jejaring sosial lainnya. Tapi realita yang didapat jumlah orang-orang yang datang ke kajian hanya segitu-gitu aja, bahkan jumlahnya semakin merosot (Astagfirullah )

2. Tidak ada apresiasi dan penghargaan dari teman teman terhadap kinerja ROHIS sendiri.
Departemen keakhwatan baik dari SMA 1 maupun SMA 5 sama sama menerbitkan bulletin. Actually, bulletin SMA 1 agak lebih mending karena sebagian anak masih mau membacanya dan sedikit memberikan apresiasi walau sebagian lainnya lebih memilih meninggalkannya di meja tanpa tersentuh. Beda dengan SMA1, di SMA 5 bulletin keakhwatan berakhir menjadi bungkus kacang (Astaghfirullah ). Inti dari masalahnya sama, kurangnya apresiasi dan penghargaan dari teman teman atas kinerja ROHIS sendiri. Bayangkan saja membuat bulletin tidaklah mudah, harus memilah milah tema yang akan diangkat, membuat desain, nyetak, nyebar. Apakah ini tidak pantas untuk dihargai walau hanya sedikit saja? 

3. Publikasi kajian yang ngadat di tengah jalan.
“eh, emang ada kajian ya ? Masa sih? Kok aku nggak tau.”

Inilah salah satu realita yang sering ditemui. Saya sadar publikasi itu sangat penting. Namun, terkadang daya jangkau dari departemen penyelenggara sendiri tidak sampai karena sibuk mengurus kegiatan yang lain . Sehingga publikasi sering ngadat di tengah jalan. Untuk itu, sering dari departemen penyelenggara kegiatan selalu meminta tolong untuk mempublikasikan adanya kajian namun alhasil publikasi itu tak tersebar dengan semestinya. Sehingga banyak pihak yang sebenarnya ingin datang, namun tidak tahu rincian acaranya seperti apa dan kapan. Sekali lagi, kesadaran itu penting.

Permasalah permasalahan seperti di atas sebenarnya dapat diatasi. Dibutuhkan kesadaran baik dari pihak yang mendakwahi dan pihak yang didakwahi. Dua-duanya sama-sama saling membutuhkan. Tekankanlah prinsip saya butuh dan anda juga butuh sehingga dari kedua pihak akan muncul kesadaran di benak masing-masing pihak. Untuk itu, mari kita saling membantu dan tekankan prinsip Fastabiqul Khairat “Mari kita berlomba lomba dalam meraih kebaikan ”. 


2 komentar:

shinta mengatakan...

subhanallah...
jadi kangen maen ke sma
hiks...

Anonim mengatakan...

apakah SMA 1 masih menghargai pluralisme....?

Posting Komentar

 

Copyright © Thipposite. Template created by Volverene from Templates Block
WP by Simply WP | Solitaire Online